Kamis, 21 Maret 2013

belajar dan pembelajaran

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Dia-lah yang telah menganugrahkan Al Quran sebagai petunjuk bagi seluruh manusia dan rahmat segenap alam.
Dia-lah Yang Maha mengetahui makna dan maksud kandungan Al Quran. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rosululloh SAW, keluarga sahabat serta orang orang yang masih turut dijalannya.
Dengan pertolongan dan hidayah-Nya lah pada akhirnya kami dapat menyusun makalah ini sebagai hasil untuk memenuhi tugas mata kuliah semester 3Belajar dan Pembelajaranyang berjudul “Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum”. Tentunya selama penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada :
  1. Indah Selaku Dosen mata kuliahBelajar dan Pembelajaran” yang telah membimbing kami agar tidak salah dalam melangkah.
  2. Petugas Perpustakaan yang telah bersedia meminjamkan buku – buku referensi sebagai pedoman kami dalam menyusun makalah.
  3. Semua pihak yang menyusun makalah ini.
Akhir kata semoga makalah yang sederhana ini adapat memberikan kontribusi positif dan bermakna di STAIN TULUNGAGUNG. Kami yakin dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu saran dan kritik konstruktif terhadap makalah ini sangat kami harapkan.


DAFTAR ISI


HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii

BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
  1. Model-model pengembangan kurikulum........................................................... 2         
  2. Guru dan pengembangan kurikulum.................................................................. 5

BAB III PENUTUP
Kesimpulan ..................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 9
 
BAB I PENDAHULUAN

A.     Latar belakang masalah.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya  manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan, guru merupakan komponen yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Ada banyak keterbatasan yang dimiliki oleh guru, yang menyebabkan kualitas layanan menjadi rendah. Sekolah sebagai satuan unit terkecil pendidikan harus senantiasa mengikuti perkembangan zaman, misalnya dengan menyesuaikan kurikulum sesuai perkembangan kurikulum yang digunakan pemerintah. Sehingga memudahkan guruatau tenaga pendidik dalam melakukan kegiatan mengajar.
Karena demikian pentingnya wawasan mengenai pembelajaran dan pengembangan kurikulum bagi para guru atau tenaga pendidik, maka kami buat suatu makalah yang akan menyinggung  mengenai model-model pengembangan kurikulum serta guru dan pengembangan kurikulum.
B.     Rumusan masalah.
1.      Apa saja model pengembangan kurikulum?
2.      Hal-hal apa saja yang berkaitan dengan guru dan pengembangan kurikulum?

BAB II PEMBAHASAN
A.     Model-Model Pengembangan Kurikulum.
1.      The administrative model.
Model pengembangan kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling dikenal. Diberi nama model administratif atau line staf karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.
2.      The grass roots model.
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan pengembangan kurikulum, bukan dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan / kurikulum yang bersifat sentralisasi,sedangkan model graas root akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifa desentralisasi.
3.      Beauchamp’s system.
Model pengembangan kurikulum ini dikembangkan oleh Beauchamp yaitu seorang ahli kurikulum. Beau champ mengemukakan lima hal didalam mengembangkan suatu kurikulum, yaitu:
ü  menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, ataupun seluruh negara,
ü  menetapkan personalia, yaitu siapa yang terlibat dalam pengembangan kurikulum,
ü  organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum,yaitu prosedur apa yang akan ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus,memilih isi dan pengalaman belajar, kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum.
Implementasi kurikulum, yaitu mengimplementasikan dan melaksanakan kurikulum yang bukan sesuatu yang sederhana, sebab membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, baik kesiapan guru, siswa, fasilitas, bahan maupun biaya, disamping kesiapan manajerial dari pimpinan sekolah atau administrator setempat,
Evaluasi kurikulum, yang mencakup empat hal:
v  evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru
v  evaluasi desain kurikulum,
v  evaluasi belajar siswa,
v  evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.
Data yang diperoleh darihasil kegiatan evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum, serta prinsip-prinsip pelaksanaannya.
4.      The demonstration model
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots,datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru yang bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil,hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum. Ada beberapa kebaikan dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini, diantaranya adalah:
o   karena kuirkulum disususn dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang nyata, maka akan dihasilkan suatu kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih praktis,
o   perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk untuk ditolak oleh administrator, dibandingkan  dengan perubahan dan penyempurnaan yang menyeluruh,
o   pengembangan kuirkulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat menembus hambatan yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi pelaksanaannya tidak ada,
o   model ini yang sifatnya grass root menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru.
Kelemahan dari model ini adalah bagi guru yang tidak ikut berpartisipasi mereka akn menerimanya dengan enggan-enggan, dalam keadaan terburuk mungkin akan terjadin apatisme.
5.      Taba’s inverted model
Ada lima langkah pengembangan kurikulum model Taba’s ini, yaitu:
Ø  mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru.
Ø  menguji unit eksperimen,
Ø  mengadakan revisi dan konsolidasi,
Ø  pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum,
Ø  implementasi dan diseminasi.
6.      Roger’s interpersonal relations model
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Roger, yaitu:
  • pemilihan target dari sistem pendidikan,
  • partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif,
  • pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran,
  • partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok
Model pengembangan kurikulum dari Roger ini berbeda dengan model-model yang lainnya. Sepertinya tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegiatan kelompok.
7.      The systematic action-research model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Kurikulum dikembangkan dalam konteks harapan warga masyarakat, pada orang tua, tokoh masyarakat, pengusaha, siswa, guru dan lain-lain.
8.      Emerging technical model
Perkembangan bidang teknologidan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh kecenderungan- kecenderungan  baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya:
ü  the behavioural analysis model,menekankan penguasan perilaku atau kemampuan,
ü  the system analysis model,berasal daei gerakan efisiensi bisnis,
ü  the computer based model,suatu model dengan memanfaatkan komputer.
B.     Guru dan Pengembangan Kurikulum
1.      Guru sebagai pendidik profesional
Mendidik adalh pekerjaan profesional, oleh karena itu guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik profesional. Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional.
Depdikbud (1980) telah merumuskan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh guru dan mengelompokkannya atas tiga dimensi umum kemampuan, yaitu:
a)      kemampuan profesional, mencakup penguasaan materi pelajaran, penguasaan landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, penguasaan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa
b)      kemampuan sosial, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan kerja dan lingkungan sekitar
c)      kemampuan personal yang mencakup:
§  penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru ,dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan,
§  pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh guru,
§  penampilan upaya untuk menjadiokan dirinya sebagai anutan dan teladan bagi para siswanya.
Lebih lanjut, Depdikbud (1980)merinci ketiga kelompok kemampuan dasar, yaitu:
1)      penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya
2)      pengelolaan program belajar-mengajar,
3)      pengelolaan kelas,
4)      penggunaan media dan sumber pembelajaran,
5)      penguasaan landasan-landasan kependidikan,
6)      pengelolaan interaksi belajar-mengajar,
7)      penilaian prestasi siswa,
8)      pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan,
9)      pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah,
10)  pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk peningkatan mutu pengajaran.
2.      Guru sebagai pembimbing belajar
Dalam konsep pendidikan klasik, guru berperan sebagai penerus dan penyampai ilmu, sedangkan dalam konsep teknologi pendidikan, guru adalah pelatih kemampuan. Dalam konsep interaksional, guru berperan sebagai mitra belajar, sedangkan dalam konsep pendidikan pribadi, guru lebih berfungsi sebagai pengarah pendorong, dan pembimbing. Tujuan utama kegiiatan guru dalam mengajar ialah mempengaruhi perubahan tingkah laku para siswanya. Perubahan ini terjadi karena guru memberikan perlakuanperlakuan. Tepat tidaknya, efektif tidaknya perlakuan yang diberikan oleh guru akan menentukan usaha belajar yang dolakukan oleh siswa. Upaya guru memberikan perlakuan tersebut erat kaitannya dengan tingkat harapan dan perubahan yang diinginkannya.
3.      Peranan guru dalam pengembangan kurikulum
Dilihat dari segi pengelolaanya, pengembagan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral- desentral.
Dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi, kurikulum disusun oleh sesuatu tim khusus di tingkat pusat. Model pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi, mempunyai beberapa kelebihan disamping juga kelemahan. Kelebihannya selain mendukung terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa dan tercapainya standar minimal penguasaan/perkembangan anak, juga model oini mudah dikelola, dimonitor, dan dievaluasi, serta lebih hemat dilihat dari segi biaya, waktu, dan fasilitas. Sedangkan kelemahannya, sukar dalam menyeragamkan kondisi yang berbeda-beda keadan dan tahap perkembangan intelek, alam dan sosial budayanya, terjadi ketidak adilan dalam menilai hasil, penggunaan standar yang sama akan memberikan gambaran hasil yang beragam dan menunjukan adanya perbedaan yang sangat ekstrim.
Peranan guru baik dalam model sentralisasi maupun desentralisasi dapat dilihat dalam tiga tahap, yaitu tahap perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi.
  1. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi.
Tugas guru adalah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan,minat dan tahap perkembangan anak, memiliki metode dan media mengajar Yng bervariasi, serta menyusun program  dan alat evaluasi yang tepat. Guru juga berkewajiban untuk menjelaskan kepada para siswanya tentang apa yang akan dicapai dengan pengajarannya. Ia juga hendaknya melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan motivasi belajar, menciptakan situasi kompetitif dan kooperatif,memberikan pengarahan dan bimbingan.
  1. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi.
Peranan guru dalam pengembangan kurikulum lebih besar dibandingkan dengan yang dikelola secara sentralisasi. Guru-guru turut berpartisipasi, bukan hanya dalam penjabaran kurikulum induk kedalam program tahunan/ semester/ caturwulan, atau satuan pelajaran, tetapi juga didalam menyusun kurikulum yang menyeluruh untuk sekolahnya. Guru-guru turut memberi andil dalam merumuskan setiap komponen dan unsur-unsur dalam kurikulum. Sehingga guru bukan hanya berperan sebagai pengguna, tetapi perencana, pemikir, penyusun pengembang dan juga pelaksana dan evaluator kurikulum.
4.      Pendidikan guru.
a). Masalah pendidikan guru.
Masalah pendidikan guru tidak dapat dilepaskan dari masalah pendidikan secara keseluruhan. Dalam pendidikan di Indonesia kita menghadapi dua masalah besar, yaitu masalah kualitas dan kuantitas pendidikan. Masalah kuantitas pendidikan berkenaan dengan penyediaan fasilitas belajar bagi semua anak usia sekolah misalnya ruang kelas, gedung, dan peralatan sekolah, serta guru dan tenaga kependidikan lainnya. Masalh kualitas pendidikan, masyarakat dan para ahli mensinyalir bahwa mutu pendidikan dewasa ini belum seperti yang diharapkan. Faktor yang mungkin melatar belakangi hal tersebut, selain masih kurangnya sarana dan fasilitas belajar yang tersedia, adalah karena faktor guru. Hal itupun mungkin disebabkan dua hal, yaitu guru belum atau tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, dan mungkin karena kemampuan profesional guru yang masih kurang.
b). Standarisasi pendidikan guru
Pendidikan guru perlu memiliki suatu standar, yang akan menjadi acuan, baik dalam pengembangan, pelaksanaan, maupun evaluasi program pendidikan guru. Dengan mengacu pada National Education Asociation (NEA) Amerika Serikat, standar pendidikan guru meliputi lima komponen pendidikan, yaitu: perencanaan, implementasi, personalia dan isi program serta keanggotaan dalam profesi guru.
c). Pendidikan guru berdasarkan kompetensi.
Model pendidikan guru berdasarkan kompetensi(PGBK) atau competence based teacher education (CBTE). Beberapa ahli lebih setuju memakai kata performance (perbuatan atau perilaku) daripada competence, karena dipandangnya lebih luas.

  

BAB III PENUTUP
 
Ø  Kesimpulan.

  • Model-Model Pengembangan Kurikulum, yaitu:
ü  The administrative model, ialah model yang inisiatif dan gagasan pengembangannya datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.
ü  The grass roots model, ialah model yang inisiatif dan pengembangan kurikulum, bukan dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah.
ü  Beauchamp’s system
ü  The demonstration model, ialah model demonstrasi yang pada dasarnya bersifat grass roots,datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru yang bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum
ü  Taba’s inverted model
ü  Roger’s interpersonal relations model
ü  The systematic action-research model, ialah model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial
ü  Emerging technical model

DAFTAR PUSTAKA

Sukmadinata, Nana Syaodih, Prof. Dr., Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Cetakan ketujuh 2005


Rabu, 04 April 2012

Manfaat Media Komunikasi dalam Pendidikan


Manfaat Media Komunikasi dalam pendidikan
1. Memberikan Pengetahuan Tentang Tujuan Belajar
Pada permulaan pembelajaran, siswa perlu diberi tahu tentang pengetahuan yang akan diperolehmya atau ketrampilan yang akan dipelajarinya. Kepada siswa harus dipertunjukkan apa yang diharapkan darinya, apa yang harus dapat ia lakukan untuk menunjukkan bahwa ia telah menguasai bahan pelajaran dan tingkat kesulitan yang diharapkan.
2. Memotivasi Siswa
Salah satu peran yang umum dari media komunikasi adalah memotivasi siswa. Tanpa motivasi, sangat mungkin pembelajaran tidak menghasilkan belajar. Usaha untuk memotivasi siswa seringkali dilakukan dengan menggambarkan sejelas mangkin keadaan di masa depan, dimana siswa perlu menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya.. Media yang sesuai untuk menggambarkan keadaan masa depan adalah media yang dapat menunjukkan sesuatu atau menceritakan (tell) hal tersebut.
3. Menyajikan Informasi
Dalam sistem pembelajaran yang besar yang terdiri dari beberapa kelompok tantangan kurikulum yang sama, media seperti film dan televisi dapat digunakan untuk menyajikan informasi. Guru kelas bebas dari tugas mempersiapkan dan menyajikan pelajaran, ia dapat menggunakan energinya kepada fungsi-fungsi yang lain seperti merencanakan kegiatan siswa, mendiagnosa masalah siswa, memberikan konseling secara individual.

4. Merangsang Diskusi
Kegunaan media untuk merangsang diskusi seringkali disebut sebagai papan loncat, diambil dari bentuk penyajian yang relatif singkat kepada sekelompok siswa dan dilanjutkan dengan diskusi. Format media biasanya menyajikan masalah atau pertanyaan,. Penyajian dibiarkan terbuka (open-end), tidak ada penarikan kesimpulan atau saran pemecahan masalah. Kesimpulan atau jawaban diharapkan muncul dari siswa sendiri dalam interaksinya dengan pemimpin atau dengan sesamanya.

5. Mengarahkan Kegiatan Siswa
Pengarahan kegiatan merupakan penerapan dari metode pembelajaran yang disebut metode kinerja (performance) atau metode penerapan (application). Penekanan dari metode ini adalahpadakegiatanmelakukan(doing).

6. Pelaksanakan Latihan Dan Ulangan
Penyajian latihan adalah proses mekanis murni dan dapat dilakukan dengan sabar dan tak kenal lelah oleh media komunikasi, khususnya oleh media yang dikelola komputer. Laboratorium bahasa juga salah satu contoh media yang digunakan untuk pengulangan dan latihan.

7. Menguatkan Belajar
Penguatan seringkali disamakan dengan motivasi, atau digolongkan dalam motivasi. Penguatan adalah kepuasan yang dihasilkan dari belajar, dimana cenderung meningkatkan kemungkinan siswa merespon dengan tingkah laku yang diharapkan, setelah diberikan stimulus. Penguatan paling efektif diberikan beberapa saat setelah respon diberikan.
8. Memberikan Pengalaman Simulasi
Simulator adalah alat untuk menciptakan lingkungan buatan yang secara realistis dapat merangsang siswa dan bereaksi terhadap responnya sendiri, sehingga dapat melatih perilaku kompleks yang membutuhkan lingkungan khusus. Contoh yng sering ditemui adalah simulator mobil yang digunakan untuk latihan mengendarai mobil dan simulator pesawat yang digunakan untuk pelatihan pilot. Instruktur biasanya menjadi bagian dari sistem, memberikan penilaian segera dan menyelipkan kerusakan pada sistem untuk memberikan siswa latihan mengatasi masalah. Media komunikasi seringkali memegang peranan penting dalam simulasi, mulai dari mengolah respon/informasi yang diberikan siswa, sampai kepada memberikan informasi tentang pencapaian siswa dalam sistem simulasi. Pada beberapa kasus pelatihan dengan simulator, seperti peralatan terbang, informasi/respon yang diberikan siswa dimasukkan dengan gerakan, tekanan, tombol dan sebagainya. Keluaran dapat berupa pertunjukan dengan alat tertentu atau sensasi gerakan (kinestetic sensations) berupa gerakan pesawat. Jenis lain dari simulasi adalah permainan (game), mensimulasikan sistem yang kompetitif dengan dua atau lebih siswa atau kelompok belajar berinteraksi satu sama lain. Karena sangat mirip dengan simulator yang dapat merefleksikan kenyataan, permainan dapat mengembangkan respon yang siap ditransfer ke dunia yang sebenarnya. Bermain peran (role playing) juga meruapakan bagian dari teknik simulasi yang dapat digunakan untuk mengajarkan ketrampilan tentang hubungan antar manusia.


Menurut Ensiklopedi of Educational Research, nilai atau manfaat media komunikasi pendidikan  adalah sebagai berikut:
a.       Meletakkan dasar-dasar yang konkret
a. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir sehingga mengurangi verbalitas.
b.Memperbesar
perhatian siswa.
c. Meletakkan dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu pelajaran lebih mantap.
d. Memberikan pengalaman yang nyata.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu
perkembangan bahasa.
g. Memberikan pengalaman yang tidak diperoleh dengan cara yang lain.
h. Media pendidikan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara guru dan murid.
i. Media pendidikan memberikan pengertian atau konsep yang sebenarnya secara realita dan teliti.
j. Media pendidikan membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar.

Manfaat  media dari sumber lain yaitu:
1.      Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan pross dan hasil belajar.
2.      Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3.      Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.
4.       Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan- kunjungan ke museum atau kebun binatang.