KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT, Dia-lah yang telah menganugrahkan Al
Quran sebagai petunjuk bagi seluruh manusia dan rahmat segenap alam.
Dia-lah Yang Maha mengetahui makna dan maksud kandungan Al
Quran. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rosululloh SAW,
keluarga sahabat serta orang orang yang masih turut dijalannya.
Dengan pertolongan dan hidayah-Nya lah pada
akhirnya kami dapat menyusun makalah ini sebagai hasil untuk memenuhi tugas mata kuliah semester 3 “Belajar dan Pembelajaran” yang berjudul “Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum”. Tentunya selama penyusunan makalah ini
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu kami ucapkan terima kasih
kepada :
- Indah Selaku Dosen mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran” yang telah membimbing kami agar tidak salah dalam melangkah.
- Petugas Perpustakaan yang telah bersedia meminjamkan buku – buku referensi sebagai pedoman kami dalam menyusun makalah.
- Semua pihak yang menyusun makalah ini.
Akhir kata semoga makalah yang sederhana ini
adapat memberikan kontribusi positif dan bermakna di STAIN TULUNGAGUNG. Kami
yakin dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu
saran dan kritik konstruktif terhadap makalah ini sangat kami harapkan.
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
- Model-model pengembangan kurikulum........................................................... 2
- Guru dan pengembangan kurikulum.................................................................. 5
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ..................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah.
Pendidikan adalah usaha sadar yang
dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah
satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di
sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan, guru merupakan komponen
yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Ada banyak keterbatasan yang
dimiliki oleh guru, yang menyebabkan kualitas layanan menjadi rendah. Sekolah
sebagai satuan unit terkecil pendidikan harus senantiasa mengikuti perkembangan
zaman, misalnya dengan menyesuaikan kurikulum sesuai perkembangan kurikulum
yang digunakan pemerintah. Sehingga memudahkan guruatau tenaga pendidik dalam
melakukan kegiatan mengajar.
Karena demikian pentingnya wawasan
mengenai pembelajaran dan pengembangan kurikulum bagi para guru atau tenaga
pendidik, maka kami buat suatu makalah yang akan menyinggung mengenai model-model pengembangan kurikulum
serta guru dan pengembangan kurikulum.
B. Rumusan masalah.
1. Apa saja model pengembangan
kurikulum?
2. Hal-hal apa saja yang
berkaitan dengan guru dan pengembangan kurikulum?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Model-Model Pengembangan
Kurikulum.
1. The administrative model.
Model pengembangan
kurikulum ini merupakan model paling lama dan paling dikenal. Diberi nama model
administratif atau line staf karena
inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan
dan menggunakan prosedur administrasi.
2. The grass roots model.
Model pengembangan
ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan pengembangan kurikulum,
bukan dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model
pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan
pendidikan / kurikulum yang bersifat sentralisasi,sedangkan model graas root
akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifa desentralisasi.
3. Beauchamp’s system.
Model pengembangan
kurikulum ini dikembangkan oleh Beauchamp yaitu seorang ahli kurikulum. Beau
champ mengemukakan lima hal didalam mengembangkan suatu kurikulum, yaitu:
ü menetapkan arena atau lingkup
wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut, apakah suatu sekolah,
kecamatan, kabupaten, provinsi, ataupun seluruh negara,
ü menetapkan personalia, yaitu
siapa yang terlibat dalam pengembangan kurikulum,
ü organisasi dan prosedur
pengembangan kurikulum,yaitu prosedur apa yang akan ditempuh dalam merumuskan
tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus,memilih isi dan pengalaman belajar,
kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum.
Implementasi
kurikulum, yaitu mengimplementasikan dan melaksanakan kurikulum yang bukan
sesuatu yang sederhana, sebab membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, baik
kesiapan guru, siswa, fasilitas, bahan maupun biaya, disamping kesiapan
manajerial dari pimpinan sekolah atau administrator setempat,
Evaluasi kurikulum, yang mencakup
empat hal:
v evaluasi tentang pelaksanaan
kurikulum oleh guru-guru
v evaluasi desain kurikulum,
v evaluasi belajar siswa,
v evaluasi dari keseluruhan
sistem kurikulum.
Data yang diperoleh darihasil kegiatan
evaluasi ini digunakan bagi penyempurnaan sistem dan desain kurikulum, serta
prinsip-prinsip pelaksanaannya.
4. The demonstration model
Model demonstrasi
pada dasarnya bersifat grass roots,datang
dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru
yang bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum.
Model ini umumnya berskala kecil,hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu
komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum. Ada beberapa
kebaikan dari pengembangan kurikulum dengan model demonstrasi ini, diantaranya
adalah:
o
karena kuirkulum disususn dan dilaksanakan dalam situasi tertentu yang
nyata, maka akan dihasilkan suatu kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum
yang lebih praktis,
o
perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek
tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk untuk ditolak oleh administrator,
dibandingkan dengan perubahan dan
penyempurnaan yang menyeluruh,
o
pengembangan kuirkulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat
menembus hambatan yang sering dialami yaitu dokumentasinya bagus tetapi
pelaksanaannya tidak ada,
o
model ini yang sifatnya grass root
menempatkan guru sebagai pengambil inisiatif dan nara sumber yang dapat menjadi
pendorong bagi para administrator untuk mengembangkan program baru.
Kelemahan dari
model ini adalah bagi guru yang tidak ikut berpartisipasi mereka akn
menerimanya dengan enggan-enggan, dalam keadaan terburuk mungkin akan terjadin
apatisme.
5. Taba’s inverted model
Ada lima langkah pengembangan
kurikulum model Taba’s ini, yaitu:
Ø mengadakan unit-unit
eksperimen bersama guru-guru.
Ø menguji unit eksperimen,
Ø mengadakan revisi dan
konsolidasi,
Ø pengembangan keseluruhan
kerangka kurikulum,
Ø implementasi dan diseminasi.
6. Roger’s interpersonal
relations model
Ada empat langkah pengembangan
kurikulum model Roger, yaitu:
- pemilihan target dari sistem pendidikan,
- partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif,
- pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran,
- partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok
Model pengembangan
kurikulum dari Roger ini berbeda dengan model-model yang lainnya. Sepertinya
tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian
kegiatan kelompok.
7. The systematic
action-research model
Model kurikulum ini
didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial.
Kurikulum dikembangkan dalam konteks harapan warga masyarakat, pada orang tua,
tokoh masyarakat, pengusaha, siswa, guru dan lain-lain.
8. Emerging technical model
Perkembangan bidang
teknologidan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efisiensi efektivitas dalam
bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum. Tumbuh
kecenderungan- kecenderungan baru yang
didasarkan atas hal itu, diantaranya:
ü the behavioural analysis model,menekankan penguasan perilaku atau kemampuan,
ü the system analysis model,berasal
daei gerakan efisiensi bisnis,
ü the computer based model,suatu
model dengan memanfaatkan komputer.
B. Guru dan Pengembangan
Kurikulum
1. Guru sebagai pendidik
profesional
Mendidik adalh
pekerjaan profesional, oleh karena itu guru sebagai pelaku utama pendidikan
merupakan pendidik profesional. Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja
dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki
pengetahuan dan kemampuan profesional.
Depdikbud (1980)
telah merumuskan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh guru dan
mengelompokkannya atas tiga dimensi umum kemampuan, yaitu:
a) kemampuan profesional,
mencakup penguasaan materi pelajaran, penguasaan landasan dan wawasan
kependidikan dan keguruan, penguasaan proses kependidikan, keguruan dan
pembelajaran siswa
b) kemampuan sosial, yaitu kemampuan
menyesuaikan diri dengan tuntutan kerja dan lingkungan sekitar
c) kemampuan personal yang
mencakup:
§ penampilan sikap positif
terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru ,dan terhadap keseluruhan situasi
pendidikan,
§ pemahaman, penghayatan, dan
penampilan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh guru,
§ penampilan upaya untuk
menjadiokan dirinya sebagai anutan dan teladan bagi para siswanya.
Lebih lanjut, Depdikbud (1980)merinci
ketiga kelompok kemampuan dasar, yaitu:
1) penguasaan bahan pelajaran
beserta konsep-konsep dasar keilmuannya
2) pengelolaan program
belajar-mengajar,
3) pengelolaan kelas,
4) penggunaan media dan sumber
pembelajaran,
5) penguasaan landasan-landasan
kependidikan,
6) pengelolaan interaksi
belajar-mengajar,
7) penilaian prestasi siswa,
8) pengenalan fungsi dan program
bimbingan dan penyuluhan,
9) pengenalan dan
penyelenggaraan administrasi sekolah,
10) pemahaman prinsip-prinsip dan
pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk peningkatan mutu pengajaran.
2. Guru sebagai pembimbing
belajar
Dalam konsep
pendidikan klasik, guru berperan sebagai penerus dan penyampai ilmu, sedangkan
dalam konsep teknologi pendidikan, guru adalah pelatih kemampuan. Dalam konsep
interaksional, guru berperan sebagai mitra belajar, sedangkan dalam konsep
pendidikan pribadi, guru lebih berfungsi sebagai pengarah pendorong, dan
pembimbing. Tujuan utama kegiiatan guru dalam mengajar ialah mempengaruhi
perubahan tingkah laku para siswanya. Perubahan ini terjadi karena guru
memberikan perlakuanperlakuan. Tepat tidaknya, efektif tidaknya perlakuan yang
diberikan oleh guru akan menentukan usaha belajar yang dolakukan oleh siswa.
Upaya guru memberikan perlakuan tersebut erat kaitannya dengan tingkat harapan
dan perubahan yang diinginkannya.
3. Peranan guru dalam
pengembangan kurikulum
Dilihat dari segi
pengelolaanya, pengembagan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral-
desentral.
Dalam pengembangan kurikulum yang
bersifat sentralisasi, kurikulum
disusun oleh sesuatu tim khusus di tingkat pusat. Model pengembangan kurikulum
yang bersifat desentralisasi,
mempunyai beberapa kelebihan disamping juga kelemahan. Kelebihannya selain
mendukung terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa dan tercapainya standar
minimal penguasaan/perkembangan anak, juga model oini mudah dikelola,
dimonitor, dan dievaluasi, serta lebih hemat dilihat dari segi biaya, waktu,
dan fasilitas. Sedangkan kelemahannya, sukar dalam menyeragamkan kondisi yang
berbeda-beda keadan dan tahap perkembangan intelek, alam dan sosial budayanya,
terjadi ketidak adilan dalam menilai hasil, penggunaan standar yang sama akan
memberikan gambaran hasil yang beragam dan menunjukan adanya perbedaan yang
sangat ekstrim.
Peranan guru baik dalam
model sentralisasi maupun desentralisasi dapat dilihat dalam tiga tahap, yaitu
tahap perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi.
- Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi.
Tugas guru adalah
menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat, bahan pelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan,minat dan tahap perkembangan anak, memiliki metode dan media mengajar
Yng bervariasi, serta menyusun program
dan alat evaluasi yang tepat. Guru juga berkewajiban untuk menjelaskan
kepada para siswanya tentang apa yang akan dicapai dengan pengajarannya. Ia
juga hendaknya melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan motivasi belajar,
menciptakan situasi kompetitif dan kooperatif,memberikan pengarahan dan
bimbingan.
- Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi.
Peranan guru dalam
pengembangan kurikulum lebih besar dibandingkan dengan yang dikelola secara
sentralisasi. Guru-guru turut berpartisipasi, bukan hanya dalam penjabaran
kurikulum induk kedalam program tahunan/ semester/ caturwulan, atau satuan
pelajaran, tetapi juga didalam menyusun kurikulum yang menyeluruh untuk
sekolahnya. Guru-guru turut memberi andil dalam merumuskan setiap komponen dan
unsur-unsur dalam kurikulum. Sehingga guru bukan hanya berperan sebagai
pengguna, tetapi perencana, pemikir, penyusun pengembang dan juga pelaksana dan
evaluator kurikulum.
4. Pendidikan guru.
a). Masalah pendidikan guru.
Masalah pendidikan
guru tidak dapat dilepaskan dari masalah pendidikan secara keseluruhan. Dalam
pendidikan di Indonesia kita menghadapi dua masalah besar, yaitu masalah
kualitas dan kuantitas pendidikan. Masalah kuantitas pendidikan berkenaan
dengan penyediaan fasilitas belajar bagi semua anak usia sekolah misalnya ruang
kelas, gedung, dan peralatan sekolah, serta guru dan tenaga kependidikan
lainnya. Masalh kualitas pendidikan, masyarakat dan para ahli mensinyalir bahwa
mutu pendidikan dewasa ini belum seperti yang diharapkan. Faktor yang mungkin
melatar belakangi hal tersebut, selain masih kurangnya sarana dan fasilitas
belajar yang tersedia, adalah karena faktor guru. Hal itupun mungkin disebabkan
dua hal, yaitu guru belum atau tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, dan
mungkin karena kemampuan profesional guru yang masih kurang.
b). Standarisasi pendidikan guru
Pendidikan guru
perlu memiliki suatu standar, yang akan menjadi acuan, baik dalam pengembangan,
pelaksanaan, maupun evaluasi program pendidikan guru. Dengan mengacu pada National Education Asociation (NEA)
Amerika Serikat, standar pendidikan guru meliputi lima komponen pendidikan,
yaitu: perencanaan, implementasi, personalia dan isi program serta keanggotaan
dalam profesi guru.
c). Pendidikan guru berdasarkan
kompetensi.
Model pendidikan
guru berdasarkan kompetensi(PGBK) atau competence
based teacher education (CBTE). Beberapa ahli lebih setuju memakai kata performance (perbuatan atau perilaku)
daripada competence, karena
dipandangnya lebih luas.
BAB III PENUTUP
Ø Kesimpulan.
- Model-Model Pengembangan Kurikulum, yaitu:
ü The administrative model,
ialah model yang inisiatif dan gagasan pengembangannya datang dari para
administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.
ü
The grass roots model, ialah model yang inisiatif dan pengembangan
kurikulum, bukan dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah.
ü
Beauchamp’s system
ü The demonstration model,
ialah model demonstrasi yang pada dasarnya bersifat grass roots,datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh
sekelompok guru atau sekelompok guru yang bekerja sama dengan ahli yang
bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum
ü Taba’s inverted model
ü Roger’s interpersonal
relations model
ü The systematic
action-research model, ialah model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa
perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial
ü Emerging technical model
DAFTAR PUSTAKA
Sukmadinata,
Nana Syaodih, Prof. Dr., Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: PT
Remaja Rosdakarya. Cetakan ketujuh 2005